| Nanda Wahyu |
Menurut mahasiswa angkatan 2008 itu, ternyata sangat susah menjalankan dua aktivitas, kuliah dan sepak bola. Untuk itu, pemain yang tinggal di Tridadi Sleman benar-benar meninggalkan kuliah.
"Susah untuk kuliah dan sepak bola sekaligus. Jadwal kuliah dan sepak bola sering tabrakan," ujarnya di sela latihan ringan di Stadion Maguwoharjo Sleman, Rabu (9/2/2011).
Mahasiswa yang masuk melalui jalur seleksi mandiri itu mantap berhenti kuliah sementara. Pada libur jeda paruh kompetisi, pemain bernomor punggung 7 itu menyempatkan diri mengambil formulir cuti di kampusnya. "Saya sudah urus semua syarat cuti. Tinggal minta tandatangan dekan saja, setelah itu ya sudah," paparnya seraya mengatakan ia hanya mengambil cuti satu semester saja.
Nanda yang telah lima semester kuliah, sebenarnya menyayangkan keputusan ini. Tapi apa boleh buat, ia tak bisa menjalankan dua aktivitas yang terbilang sama-sama berat dalam waktu bersamaan. Di kampusnya, kurikulum yang diterapkan terbilang sangat berat.
Hampir seluruh jenis olah raga harus diambilnya. Tak hanya itu, Nanda juga harus mengambil kuliah praktik untuk semua jenis olah raga yang ditawarkan.
"Yang berat itu kalau harus kuliah praktik. Kalau kuliah basket juga harus basket beneran, ikut main. Begitu juga olah raga lain," paparnya.
Sebagai seorang pemain bola profesional, Nanda mengaku masih dapat mengimbangi sejumlah olah raga populer, yakni basket, voli, hingga atletik. Tapi ketika harus berhadapan dengan olah raga air, Nanda menyatakan menyerah.
"Kalau sepak bola dan olah raga bola lain masih bisa, tapi kalau sudah renang, saya tidak bisa. Saya kemarin saja dapat nilai C di kuliah renang," terangnya seraya tersenyum.
Ditanya soal pendapat orangtuanya tentang pilihannya di sepak bola, Nanda bersyukur karena orangtuanya mendukung sepenuhnya apa yang dilakukannya. "Orangtua sih tidak masalah. Yang penting buat mereka, kuliah saya nanti tetap selesai. Jadi setelah cuti nanti, saya harus kuliah lagi," katanya.(*)