Djoko Handoyo: Silahkan Mengadu ke Bupati.
Manajemen PSS Sleman santai dituding tidak profesional. Tudingan ini disampaikan mantan manajer PSS Sleman Sukidi Kartosuwignyo. Sesepuh sepakbola Sleman ini menyebutkan Manajemen Super Elang Jawa saat ini dipegang oleh orang- orang yang tidak profesional. Komentar pedas itu ditanggapi dingin General Manager PSS Djoko Handoyo. Menurutnya, bila ada pihak yang menyatakan ketidak puasan terhadap manajemen PSS saat ini, itu hal yang wajar dan sah- sah saja. “Itu hak masyarakat Sleman sebagai pemilik PSS,” ujarnya santai.
Djohan berasalasan, keberadaan manajemen saat ini merupakan hasil Musyawarah Cabang (Muscab) Pengcab PSSI Sleman beberapa tahun. Keputusannya menyerahkan sepenuhnya pengelolaan PSS ke Pemmerintah Daerah (Pemda) Sleman. Djohan, sapaan akrab Djoko Handoyo mengatakan, kalau pihaknya dinilai tidak mampu mengelola PSS, pihak yang tidak setuju dipersilahkan mengadu ke bupati.
“Keberadaan kami (Manajemen, Red) di PSS kan karena ditugaskan oleh bupati. Seandainya kepercayaan tersebut diambil dari kami, silahkan. Kami bakal legowo menerima,” jelas Djohan.
“Keberadaan kami (Manajemen, Red) di PSS kan karena ditugaskan oleh bupati. Seandainya kepercayaan tersebut diambil dari kami, silahkan. Kami bakal legowo menerima,” jelas Djohan.
Penyerahan pengelolaan PSS ke Pemkab Sleman waktu itu disebabkan karena pembiayaan klub Divisi Utama dinilai terlalu tinggi. Selanjutnya diserahkan ke Pemkab Sleman dengan harapan bisa memperoleh asupan dana dari APBD.
Sebelumnya, mantan Manajer PSS, Sukidi Kartosuwignyo melontarkan pernyataan pedas. Menurut Sukidi, sejauh ini pengelolaan tim oleh manajemen belum dilakukan secara profesional. Pengelolaan tersebut menyebabkan tim pujaan Slemania tidak bisa berbuat banyak di kancah sepak bola nasional. ”Bagi saya, Divisi Utama dan Super Liga itu sudah masuk kategori profesional. Karena itu, pengelolaan tim juga seharusnya dilakukan secara profesional. Tapi, tidak dengan PSS. Manajemen belum bertindak secara profesional,” ujarnya.
Sukidi mencontohkan, untuk membangun sebuat tim profesional yang kompetitif dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Sebab, ketersediaan dana memungkinkan tim pelatih merekrut pemain yang memiliki kualifikasi memadai. Dengan begitu, terbangun tim yang kuat dengan materi pemain yang bagus.
Untuk mewujudkannya, manajemen harus diisi orang-orang yang memiliki kemampuan mencari sumber dana alternatif untuk menghidupi tim. Manajemen tidak bisa hanya menghabiskan dana yang bersumber dari uang rakyat. Padahal, mulai tahun depan tim profesional sudah dilarang bersandar pada APBD. ”Sekarang, kalau tidak ada duit mau beli pemain pakai apa?”tambahnya.
“ Kalau cuma pemain sembarangan memang banyak dan harganya murah. Tapi kalau mau yang bagus kan duitnya juga harus banyak. Nah untuk cari duit kan harus ada orang yang bisa berinovasi bukan cuma bisa menghabiskan biaya saja,” tegasnya.
Dia menjelaskan, evaluasi yang dilakukan setiap akhir kompetisi seharusnya tidak hanya dilakukan terhadap tim. Evaluasi mestinya juga diterapkan terhadap perangkat tim dan manajemen. Karena itu, jika tim gagal maka kegagalan itu tidak semata dibebankan kepada tim yang turun di lapangan. ”Semuanya saling terkait. Kalau timnya gagal, artinya manajemen juga gagal. Sebab, yang membentuk tim adalah manajemen. Kalau yang dievaluasi timnya saja, sedangkan manajemennya tidak, ya tetap sulit berkembang nantinya,” jelasnya.
Sukidi menyesalkan langkah manajemen yang tak segera membentuk tim. Baginya, mengulur waktu hanya akan merugikan tim. Apalagi, tidak ada lagi yang harus ditunggu untuk menghadapi kompetisi mendatang. “Yang jelas, tim jumlahnya sebelas pemain. Dan, lawannya untuk musim besok juga jelas. Review musim lalu jadi tolok ukur untuk persiapan musim depan,” katanya.
Dia mengharapkan PSS segera bergarak. Kalau menunggu regulasi terlalu lama. Toh juga regulasi tidak akan berubah terlalu banyak. Yang terpenting sekarang adalah segera bentuk tim, susun target yang jelas dan tindak lanjuti dengan pemain yang jadi. “Jangan semuanya pemain baru, karena mereka masih butuh jam terbang lebih banyak,” paparnya. (radar jogja)
